sekolahriau.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Melodi Senja di Balik Papan Tulis

Bab 1: Aroma Kapur dan Mimpi

Debu kapur menari-nari di udara, aroma khas yang tak pernah lekang dari ingatan. Di kelas VIII-C, matahari senja menyelinap masuk melalui jendela, menyinari wajah-wajah yang mulai lelah namun tetap bersemangat. Hari ini, pelajaran Bahasa Indonesia terasa lebih berat dari biasanya. Ibu Ani, guru yang selalu sabar, memberikan tugas membuat cerpen singkat.

“Cerpen tentang apa saja, yang penting jujur dan dari hati,” pesannya dengan senyum tulus.

Di bangku pojok, duduklah seorang gadis bernama Anya. Rambutnya dikepang dua dengan pita merah yang sudah pudar warnanya. Anya bukan murid yang menonjol dalam pelajaran, tapi ia memiliki dunia sendiri di balik mata cokelatnya. Ia suka mengamati, merenung, dan menuliskan apa yang ia rasakan dalam buku catatan kecilnya.

Tugas cerpen ini membuatnya bingung. Tentang apa yang harus ia tulis? Tentang cinta monyet seperti yang ditulis teman-temannya? Atau tentang cita-cita setinggi langit seperti yang selalu diucapkan Ibu Ani? Anya merasa dunianya terlalu sederhana untuk dituangkan dalam kata-kata.

Bab 2: Bisikan Lorong Sekolah

Lonceng berdering, tanda pelajaran usai. Anya berjalan lesu di lorong sekolah yang mulai sepi. Langkah kakinya terasa berat. Ia melewati papan pengumuman yang dipenuhi tempelan kertas berisi informasi lomba, jadwal piket, dan coretan-coretan iseng.

Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah poster usang yang terpasang di sudut papan pengumuman. Poster itu menampilkan foto seorang anak laki-laki yang tersenyum lebar, mengenakan seragam sekolah yang kebesaran. Di bawah foto itu tertulis: “Donasi Buku untuk Anak-Anak di Desa Terpencil.”

Anya tertegun. Ia teringat akan buku-buku yang menumpuk di kamarnya, buku-buku yang sudah lama tidak ia sentuh. Ia teringat akan teman-temannya di desa yang sering bercerita tentang sulitnya mendapatkan buku pelajaran.

Sebuah ide mulai bersemi di benaknya. Ia tidak akan menulis tentang cinta monyet atau cita-cita setinggi langit. Ia akan menulis tentang buku, tentang ilmu pengetahuan, dan tentang harapan.

Bab 3: Sentuhan Pena di Atas Kertas

Malam itu, Anya duduk di meja belajarnya. Lampu belajar menerangi buku catatan kecilnya. Ia mulai menulis. Kata-kata mengalir begitu saja, seolah sudah lama menunggu untuk dikeluarkan.

Ia menulis tentang seorang anak laki-laki di desa terpencil yang bermimpi menjadi seorang guru. Ia menulis tentang seorang gadis kecil yang ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan ibunya. Ia menulis tentang buku-buku yang menjadi jendela dunia bagi mereka, membuka cakrawala pengetahuan dan memberikan harapan.

Ia menulis tentang kebahagiaan yang terpancar dari mata anak-anak ketika menerima buku-buku bekas yang disumbangkan oleh teman-teman sekolahnya. Ia menulis tentang rasa syukur yang memenuhi hatinya karena bisa berbagi sedikit rezeki dengan mereka yang membutuhkan.

Ia menulis dengan jujur, dari hati, seperti yang dipesankan Ibu Ani.

Bab 4 : Cerpen Ibu Ani

Keesokan harinya, Anya menyerahkan tugas cerpennya kepada ibu Ani. Ia merasa gugup, takut cerpennya tidak sesuai ekspektasi ibu Ani.

Ibu Ani membaca cerpen Anya dengan seksama. Wajahnya tampak terharu. Setelah selesai membaca, ia menatap Anya dengan senyum bangga.

“Anya, cerpenmu sangat bagus. Kamu berhasil menyampaikan pesan yang sangat penting dengan bahasa yang sederhana dan menyentuh hati,” kata Ibu Ani.

Anya merasa lega dan bahagia. Ia tidak menyangka cerpennya akan mendapatkan pujian dari Ibu Ani.

“Terima kasih, Bu,” jawab Anya dengan senyum malu-malu.

Bab 5: Makna Dibalik Kata-kata

Cerpen Anya tidak hanya mendapatkan pujian dari Ibu Ani. Cerpen itu juga dibacakan di depan kelas. Teman-temannya terdiam mendengarkan setiap kata yang dibacakan oleh Ibu Ani.

Setelah selesai dibacakan, suasana kelas menjadi hening. Beberapa teman Anya tampak berkaca-kaca. Mereka tersentuh oleh cerita Anya tentang anak-anak di desa terpencil.

Sejak saat itu, teman-teman Anya mulai mengumpulkan buku-buku bekas untuk disumbangkan kepada anak-anak di desa terpencil. Mereka menyadari bahwa berbagi ilmu pengetahuan adalah bentuk cinta yang paling tulus.

Anya merasa bangga karena cerpennya bisa menginspirasi teman-temannya untuk berbuat baik. Ia menyadari bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Kata-kata bisa menyentuh hati, menginspirasi, dan mengubah dunia.

Bab 6: Melodi Senja di Balik Papan Tulis

Senja kembali menyapa kelas VIII-C. Debu kapur masih menari-nari di udara. Anya duduk di bangku pojok, menatap keluar jendela.

Ia melihat matahari terbenam dengan warna-warna yang indah. Ia merasakan kedamaian di hatinya. Ia tahu bahwa ia telah menemukan sesuatu yang berharga di sekolah ini. Ia telah menemukan makna di balik kata-kata.

Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar matematika dan ilmu pengetahuan. Sekolah adalah tempat untuk belajar tentang kehidupan, tentang persahabatan, tentang cinta, dan tentang harapan. Sekolah adalah tempat untuk menemukan diri sendiri dan berkontribusi bagi dunia.

Anya tersenyum. Ia siap menyambut hari esok dengan semangat baru. Ia siap menulis cerita baru, cerita yang akan menginspirasi dan mengubah dunia.

Di balik papan tulis, melodi senja terus berputar mengiringi langkah Anya menuju masa depan cerah. Impiannya kini tak hanya ada di buku catatannya, tapi juga di hatinya, siap diwujudkan.